Berkah Dalem ,Maaf belum sempat update lagi karena admin masih sibuk dengan kerjaan Silakan tinggalkan Komentar atau kirim ke email kami : omk_jepara@yahoo.com Matur Nuwun
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Agustus 2010

SEJARAH GEREJA PAROKI HATI YESUS MAHA KUDUS PURWODADI

Dalam konteks perjalanan pewartaan dan penyebaran benih iman, misi Katholik di kabupaten Grobogan Purwodadi dimulai ± 1930. Dalam sejarah misi para imam MSF, tanah Purwodadi sebagai daerah misi sejak pendudukan Jepang. Secara lebih sistematis, penyebaran itu dirintis tahun 1950-an oleh Rm. Soetapanitra, SJ. Dalam catatan sejarah paroki Gedangan, Tahun 1948-1963, Rm. Soetapanitra menjadi pastor pembantu paroki Gedangan. Dalam selang waktu itu, Rm. Soetapanitra melakukan kunjungan pastoral ke daerah Grobogan. Kunjungan inilah yang menandai awal penanaman benih iman di tanah Grobogan.



Purwodadi sebagai Stasi dari Paroki St. Yusuf Gedangan.

Pada 1930-an di daerah Purwodadi telah diupayakan kemungkinan membuka sebuah sekolah Katholik. Usaha ini kurang berjalan dengan baik karena tokohnya pak Besut dipindahtugaskan di daerah Yogyakarta. Tahun 1941/1952 Rm. Kanjeng Soegijapranata, SJ melihat adanya perkembangan umat Katholik di Grobogan yang pada waktu itu sudah ada delapan orang yang beragama Katholik. Pada 1953, daerah Purwodadi-Grobogan memperoleh guru-guru dari Colege St. Yosef Ambarawa. Mereka disebar ke pelosok-pelosok yang masih sulit dijangkau oleh kendaraan. Karena luasnya daerah pastoral di daerah Purwodadi-Grobogan, Rm.Soetapanitra, SJ menyerahkan daerah ini pada para rama dari kongrgasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF ).



Purwodadi sebagai stasi paroki St. Yohanes Penginjil Kudus (1957-1967)

Mulai 1957, daerah Purwodadi menjadi stasi dari Paroki St. Yohanes Penginjil Kudus. Sebagai bagian dari paroki Kudus, stasi Purwodadi sendiri terdiri dari lingkungan Wirosari, Gundih, dan Godong. Menjelang perayaan Natal 1957, didirikan suatu paguyupan Rukun Katholik. Pada bulan Juli 1958 berdiri SMP Rukun Katholik yang kemudian menjadi SMP Yos Sudarso. Pada 1963-1966 ketika partai komunis mulai mempropagandakan ajarannya dan ingin menguasai daerah Purwodadi, umat mengantisipasi kekuatan PKI (1965), umat membentuk satu peleton Pasukan Garuda Pancasila. Bekerjasama dengan Gereja Kristen Jawa, umat membantu pemerintah dalam menumpas PKI. Di Purwodadi antara tahun 1966-1968, terbentuklah paguyuban Warga Minulya, suatu paguyuban ketoprak dan kelompok Laras Madya, suatu kelompok kentrung, slawatan. Bersama itu juga terbentuklah satuan Katekis Amatir yang dipelopori oleh Rm. PC. Yoedodiharjo, MSF dan dilanjutkan oleh Rm. Hastowijoyo, MSF.

Pada 1967-1968, banyak orang Katholik yang menjabat di pemerintahan ikut serta mengembangkan pembangunan hidup menggereja, namun ada beberapa yang menghalangi perkembangan gereja. Usaha umat untuk mendirikan bangunan Gereja pada 1967 mulai menampakkan hasilnya yang nyata. Sebuah tanah bekas Asisten Residen yang berada di utara alun-alun Purwodadi resmi menjadi tanah untuk Gereja Katholik. Banyak tantangan dalam mendirikan sebuah bangunan Gereja ini. Namun berkat kelincahan dari umat dan Pastor paroki, akhirnya semua rintangan dapat diatasi. Letak tanah seluas 100 × 80 m yang di ajukan paroki diubah oleh team yang dibentuk oleh Gubernur Munadi menjadi 80m memanjang ke timur dan 80 m memanjang ke selatan. Selama membangun itulah umat mengadakan novena tiga kali berturut-turut mohon perlindungan dan limpahan berkat dari Hati Yesus Yang Maha Kudus. Pada hari yang ke duapuluh dua, permohonan itu ternyata dikabulkan. Untuk menunjukkan rasa syukur atas terkabulnya permohonan berkat Hati Yesus Yang Maha Kudus, maka nama itu pulalah yang di gunakan sebagai nama paroki dan pelindung paroki Purwodadi.





Purwodadi sebagai paroki (1968-sekarang)

Perkembangan selanjutnya diwarnai oleh pendidikan sekolah Katholik. Sekolah Katholik selain mengemban tugas mendidik anak-anak dan mencerdaskannya, juga mengemban misi menghadirkan Kristus di tengah masyarakat. Perkembangan baptisan sangat sIgnifikan terjadi pada akhir 1966-970-an. Perkembangan ini dikarenakan terjadinya pembabtisan para tokoh kunci seperti lurah, carik, kasus yang membuat dampak bawahannya juga mengikuti atasannya untuk dibaptis. Perkembangan tahun-tahun selanjutnya tidak lagi mengesankan. Dari data yang terhimpun dalam sensus umat Katholik 1991, umat Katholik berjumlah 2.296 jiwa. Jumlah ini tersebar di lima wilayah dan 15 stasi. Jumlah ini berlainan dengan data statistic pemerintah 1989 yang menyebutkan jumlah umat Katholik 4.377 jiwa. Perkembangan umat diwarnai pula dengan adanya pembagian wilayah baru antara paroki Purwodadi dan Paroki Sendangguwo. Perkembangan selanjutnya mengandalkan baptisan bayi yang biasanya dilakukan minggu ketiga setiap bulan atau ada kesempatan di stasi-stasi serta baptisan dewasa setiap Natal dan Paskah. Dalam perkembangannya terkhir ini, angka kematian relative banyak mengingat kebanyakan umat yang masih tinggal di wilayah dan stasi-stasi adalah orang yang sudah lanjut usia. Sedangkan generasi mudanya pindah ke kota karena studi dan pekerjaan.

Perkembangan karya kerasulan di Paroki Purwodadi juga semakin hidup seiring dengan pembangunan fisik Gereja. Sebagaimana di jabarkan dalam cita-cita Gereja Purwodadi pada 1991, Gereja Purwodadi mau mengikuti cita-cita keuskupan agung Semarang yang ingin menuju pada umat Allah yang beriman, mendalam, dewasa, misionerdan beriman masyarakat.

Selanjutnya paroki Purwodadi lebih berkutat pada segi kemandirian. Kemandirian dalam ketenagaan dapat dikatakan cukup baik sedangkan kemandirian keuangan masih dalam proses. Dalam keterbatasan tersebut,di paroki sudah berkembang paguyuban-paguyuban yang menggairahkan hidup menggereja. Tanggal 6 Oktober 1993 telah diusahakan perubahan status tanah dari hak guna bangunan menjadi hak milik. Usaha ini untuk mengantisipasi dari kebutuhan pengembangan sarana peribadatan yang sangat di butuhkan umat. Kini dari empatbelas stasi yang ada di paroki Purwodadi, 13 stasi telah memiliki tempat ibadat sendiri atau kapel. Stasi Karangrayung yang selama ini belum memliki Kapel, umat hanya mengandalkan rumah umat untuk mengadakan misa syukur atau peribadatan.



Rm. FX. Sutarno, MSF

SEJARAH GEREJA PAROKI STELLA MARIS JEPARA

Satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang, ialah justru di kota Jepara sinilah Gereja Katolik yang pertama dan yang tertua di Jawa Tengah didirikan, yaitu pada tahun 1638 dengan seizin Sultan Agung. Di seluruh Kesultanannya orang bebas memeluk dan memperkembangkan Agama Katolik. Demikianlah menurut ahli sejarah Oderius. Akan tetapi sayang bahwa orang-orang Belanda dari VOC tidak begitu tolerant seperti Sultan Agung dan karena dikeluarkannya Undang-undang Anti-Katolik oleh J.P. Coen, habis musnahlah riwayat Gereja Katolik kuno Jepara, karena imam-imamnya dibuang ke luarg negeri, umat diangkut dari Jepara ke penjara Batavia dan agama Katolik selanjutnya dilarang.

Baru setelah negeri Belanda dikuasai Napoleon, undang-undang Anti Katolik dibatalkan dan mulailah benih-benih agama Katolik ditaburkan lagi di Jawa Tengah, 27 Desember 1808, pastor pertama J. Priensen tiba di Semarang dan menetap di Gedangan. Meskipun dengan banyak rintangan dari pihak pemerintah, gereja Semarang mulai meluas ke Solo, Magelang dan Ambarawa. Akhirnya pada tahun 1914 menerima izin dari Sri Sultan Yogyakarta penyebaran orang Katolik untuk orang Jawa.

Sejak adanya larangan agama Katolik oleh J.P. Coen, sejarah tidak mencatat adanya bekas-bekas agama Katolik dalam wilayah Jepara. Baru dalam dekade-dekade yang akhir-akhir ini mulailah benih-benih agama Katolik yang ditaburkan dalam tahun 1638 semi kembali, setelah mengalami kematian selama 3 abadm yaitu dengan didirikannya stasi Pecangaan yang dipimpin oleh Pastor Stienen MSF pada tahun 1936. Kecuali sebuah H.I.C.S di Pecangaan, didirikannya sekolah-sekolah Rendah Misi di Krasak, Karangrandu, Troso dan Kedung.

Pada waktu nitu di kota Jepara barau ada beberapa glintir saja orang-orang Katolik asli Jepara dan sejumlah guru-guru, yang kebanyakan datang dari daerah selatan (Solo, Klaten, Yogyakarta, Muntilan dan Ambarawa). Sebagai orang (tokoh) Katolik yang tertua adalah Sdr. Tan Tjing Sioe. Beliaulah cikal bakal umat Katolik Jepara.

Perang Dunia II berkobar, balatentara Jepang menguasai Indonesia (Ned. Indie). Pastor-pastor dimasukkan dala kamp-kamp konsentrasi. Juga Pastor Stienen. Stasi Pecangaan yang barau mulai tumbuh itu berantakan.

Kalau sebelum perang titik berat aktivitas Katolik ada di Pecangaan, maka setelah Proklamasi beralihlah kegiatan itu ke kota Jepara. Gedung-gedung sekolah Misi di daerah Pecangaan disewa ole Dinas PD&K dan dipakai sebagai SD, sedangkan gedung bekas Pastori Pecangaan yang mula-mula juga disewa oleh Instansi Pemerintah kemudian diminta kembali dan dijadika Gereja, Asrama Guru-guru dan SMP Keluarga.

Pada masa perjuangan fisik (1945-1949) karena hubungan dengan Semarang terputus, keperluan rohaniah orang-orang Katolik di Jepara dilayani dari Paroki Purwosari, Sala. Di Kudus dan di Pati pada waktu itu belum ada pastornya. Tiga atau empat bulan sekali Rm. Adisudjono MSF mengadakan perjalanan dinasnya mengunjungi orang-orang Katolik di Jepara dan sekitarnya, melalui Cepu, Blora, Rembang, Pati dan Kudus. Kebaktian diadakan di rumah Sdr. Tan Siong Liep dan kemudian pindah di rmah Sdr. Liem Tiong Swan.

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Negeri Belanda (Desember 1948) dan hubungan pulih kembali maka pastor-pastor menduduki posnya kembali di Paroki Kudus dan Pati, dan Stasi Jepara diurus oleh pastor-pastor dari paroki Kudus, berturut-turut Rm. J. Komen MSDF, Rm. A. de Koning MSF, Rm. Stienen MSF dan Rm. C. Jacobs MSF.

Sejak saat itu Stasi Jepara sedikit demi sedikit mulai berkembang. Pada tanggal 1 Agustus 1955, dibuka Taman Kanak-Kanak dan SD Keluarga (yang sekarang TK/SD Kanisius) di Jl. Satusan No. 22, Jepara. Mgr. A. Soegijopranoto SJ, Uskup Agung Semarang, pada tanggal 21 Oktober 1956 berkunjung ke Jepara untuk memberikan Sakramen Penguatan. Pada tahun 1961, Mgr. Soegijopranoto memberkati dan meresmikan Gereja Pecangaan. Sejak itu mulai Pecangaan berdiri sendiri sebagai Stasi. Pada tanggal 24 Maret 1963, terbentuklah Dewan Stasi Jepara yang pertama.


Pembangunan Gereja

Setelah terbentuk Dewan Stasi Jepara, Rm. C. Jacobs MSF mulai merintis pembangunan gereja sebagai tempat berdoa umaat yang semakin berkembang pada waktu itu. Pada tanggal 18 Mei 1964 diresmikanlah Gereja Katolik Jepara oleh Romo Kardinal Darmojuwono. Gedung gereja yang ditempati saat ini di Jl. AR/ Hakim 42, adalah mili Yayasan Kanisius yang dalam perencanaannya dipergunakan untuk SMP Kanisius. Dari sinilah mulai dipilirkan untuk mencari tanah baru. Atas kerjasama dengan Keuskupan Agung Semarang, dibeli sebidang tanah di Jl. H.O.S. Tjokroaminoto. Sdr. Yoyok Setiawan dipilih sebagai Ketua Panitia pembangunan. Namun, ada masalah dengan perijinan dari Pemerintah Daerah Jepara, yang menurut informasi, penolakan perijinan dengan alasan lokasi di tempat itu menurut planning kota dipakai sebagai KOMPLEK PERKANTORAN (sekarang didirikan Hotel Jepara Indah). Oleh karena perijinan dipersulit, maka panitia pembangunan memutuskan untuk mendirikan gereja barau dalam satu komplek gereja lama, yakni di Jl. AR. Hakim 41 A, sekarang.


Paroki Administratif

Paroki Jepara disebut sebagai paroki administratif dengan induknya paroki Kudus. Paroki ini berada seluas dengan Kabupaten Jepara. Oleh karenanya tempat tinggal umata terpencar. Sampai dengan tahun 1990-an, paroki Jepara terdiri dari 8 (delapan) Stasi: Welahan, Batealit, Bangsri, Mayong, Keling, Donorojo, Pecangaan, K. Jawa/Kedung/Mlongo dan 4 (empat) wilayah: Yohanes, Paulus, Petrus dan Yoseph. Dalam perjalanan waktu selanjutnya mengalami pengurangan sehingga paroki administratif Jepara sekarang ini terdiri dari 4 Stasi: Mayong, Welahan, Pecangaan dan Bangsri (barau 2 tahun terakhir ini hidup kembali dan 4 wilayah: Yohanes, Paulus, Petrus dan Yoseph.



Sumber: Buku Kenangan 40 Tahun, 18 Mei 1964 – 18 Mei 2004 Gereja Katolik Stella Maris – Jepara, hal. 7-8.

Tercatat pada tahun 2008 Paroki Administratif Jepara telah resmi menjadi Paroki Mandiri ( Paroki Stella Maris Jepara )

Sejarah Singkat Keuskupan Agung Semarang

Pada tanggal 7 Agustus 1806 Raja Lodewijk Napoleon mengumumkan undang-undang kebebasan beragama. Akibatnya, Gereja Katolik di Indonesia, yang dilarang sejak tahun 1621, dapat berkembang lagi. Pada tahun 1807 mulailah lembaran baru dalam sejarah Gereja, ketika wilayah Hindia Belanda menjadi satu kesatuan dalam Gereja Katolik, yaitu Prefektur Apostolik Batavia. Dua imam sekulir dari Negeri Belanda tiba di Jakarta pada tanggal 4 April 1808 sebagai misionaris pertama. Pastor Jacobus Nelissen menjadi pemimpin pertama misi, yang meliputi seluruh Nusantara, dan beliau berkediaman di Jakarta. Selama 50 tahun berikutnya, 31 imam sekulir mengikuti jejak langkah kelompok kecil misionaris pertama itu. Di antara mereka adalah Pastor C.J.H. Franssen yang ditugaskan di Ambarawa. Pada tahun 1859 dua imam Yesuit tiba di Jakarta untuk membantu para imam sekulir itu. Selama masa jabatan Mgr. A.C. Classens (1874-1893), hanya dua imam sekulir saja bertahan. Akan tetapi, sementara itu 57 imam Yesuit berdatangan. Dengan demikian, praktis seluruh karya pastoral Gereja ditangani oleh imam Yesuit. Pada tahun 1893, ketika pastor W.J. Staal, SJ ditugaskan menjadi Vikaris Apostolik, tanggungjawab evangelisasi di Indonesia secara kanonik dialihkan dari imam sekulir kepada Serikat Yesus. Pada tahun 1842 Prefektur Apostolik Batavia ditingkatkan menjadi Vikariat. Pada tahun 1866 Vikariat Apostolik Batavia dibagi menjadi 8 stasi: Batavia, Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, Surabaya, Larantuka, Maumere dan Padang. Pada tahun 1903, seorang guru Kerasulan dan 4 orang kepala desa dari pegunungan wilayah Kalibawang berkunjung pada Rama van Lith. Empat orang ini dibaptis pada tanggal 20 Mei 1904. Dan kemudian, 171 orang menyusul dibaptis oleh Rama van Lith pada tanggal 14 Desember 1904 di Sendangsono. Peristiwa tersebut di luar harapan Rama van Lith. Mgr. Luypen dan pembesar SJ menafsirkan bahwa peristiwa pembaptisan tersebut sebagai tanda yang jelas bahwa metode Rama van Lith menghasilkan buah. Sementara itu pada tanggal 27 Mei 1899, Rama Hoevenaars SJ, teman seperjalanan Rama van Lith dari Eropa ditugaskan di Mendut. Ia berpendapat bahwa misi harus langsung mengarahkan kegiatan-kegiatannya pada rakyat kelas bawah. Ia berhasil juga. Dalam jangka waktu setengah tahun setibanya di Indonesia, telah dibaptis 62 orang Jawa. Pada akhir tahun 1903 jumlah orang Katolik di stasi Mendut lebih kurang 300 orang. Kedua metode tersebut dipraktikkan dan dipertahankan oleh kedua misionaris pertama itu. Pada tanggal 27 Juni 1905 Rama Hovenaars dipindahkan ke Cirebon. Beberapa tahun sesudahnya, ketika ia ditugaskan di Surakarta, ia mengakui keunggulan kebijakan Rama van Lith dan mengikuti jejaknya. Terutama wilayah sekitar Surakarta dan Yogyakarta terbukti menjadi tanah subur bagi benih-benih firman Allah. Sampai sekarang mayoritas umat Katolik Keuskupan Agung Semarang tinggal di wilayah tersebut. Di situlah terdapat pengaruh kuat dari keraton Surakarta dan Yogyakarta, bersamaan dengan nilai budaya tradisional yang telah berakar sangat dalam di hati dan sikap hidup masyarakat. Nilai-nilai budaya tersebut tidak menjadi ancaman atau diganti dengan agama Katolik. Karena alasan itulah, proses inkulturasi, yang telah dirintis oleh Rama van Lith, mengutamakan perlunya bahasa Jawa. Bahasa tidaklah sekedar sarana komunikasi, tetapi juga kristalisasi jiwa masyarakat dalam memandang dunia dan manusia secara khas Jawa. Di Muntilan Rama van Lith adalah pastor pertama yang dapat berkomunikasi dengan masyarakat Jawa dalam bahasa Jawa. Ia menterjemahkan doa Bapa kami dalam bahasa Jawa. Rama van Lith berhasrat memberi kaum muda Jawa, pria dan wanita, suatu pendidikan yang bermutu tinggi, yang membuat mereka mampu memiliki posisi penting dalam masyarakat. Maka diselenggarakan pendidikan Kristiani, agar mereka menjadi benih-benih kerasulan yang dapat tumbuh dan berbuah di kemudian hari. Pada tanggal 14 Januari 1908 Tarekat Suster Fransiskan mendirikan sekolah ketrampilan khusus untuk gadis-gadis Jawa di Mendut. Peristiwa sangat penting di Keuskupan Agung Semarang adalah didirikannya Seminari Menengah. Tiga dari enam calon generasi pertama dari tahun 1911-1914 ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1926 dan 1928, yaitu Rama F.X.Satiman, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan Alb. Soegijapranta, SJ. Pada tahun 1915 Rama van Driessche, SJ (1875-1934) merintis karyanya di antara orang-orang Jawa di Yogyakarta dengan bantuan seorang katekis. Karya misi sungguh didukung dan dikembangkan oleh Tarekat Bruder FIC. Lima Bruder pertama datang dari Negeri Belanda di Yogyakarta pada bulan September 1920. Langsung saja mereka ditugaskan untuk mengajar di HIS. Kedatangan Bruder-Bruder berikutnya mampu memekarkan karya mereka di kota-kota lain seperti Muntilan (1921), Surakarta (1926), Ambarawa (1928) dan Semarang (1934). Pada bulan Januari 1922, Percetakan Kanisius mulai beroperasi dan dipercayakan kepada Tarekat Bruder FIC. Rama Strater, SJ mendirikan Perhimpunan Wanita Katolik pada tanggal 9 September 1923. Berdirinya Organisasi Partai Politik Katolik pada bulan Agustus 1923 menjadi bukti perkembangan Gereja dan keberanian orang-orang Katolik dengan pusatnya di Yogyakarta. Disebabkan oleh perbedaan situasi antara Jawa Barat/Batavia dan Jawa Tengah, dan demi berkembangnya Gereja, pada tanggal 1 Agustus 1940 didirikanlah Vikariat Apostolik Semarang. Paus Pius XII menetapkan Rama Albertus Soegijapranata SJ menjadi Vikaris Apostolik. Ia menjadi uskup pribumi Indonesia pertama. Peristiwa tragis menimpa dua orang hamba Tuhan, Rama Richardus Kardis Sandjaja, Pr. dan Frater Hermanus Bouwens, SJ. Pada tanggal 20 Desember 1948 mereka dibunuh di dusun Kembaran dekat Muntilan. Peristiwa itu berkaitan dengan penyerangan pasukan Belanda di Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948, yang biasa disebut dengan clash kedua. Mgr. Albertus Soegijapranata SJ wafat pada tahun 1963, dan dimakamkan di makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, sebagai Pahlawan Nasional. Mgr. Justinus Darmojuwono, Uskup kedua (1964-1981), diangkat menjadi Kardinal pertama di Indonesia (26 Juni 1967). Agar karya pastoral semakin berbuah, pada tahun 1967 Kardinal Justinus Darmajuwono mendirikan 4 Vikariat Episkopalis di Keuskupan Agung Semarang, yaitu Semarang, Kedu, Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bapak Kardinal Justinus Darmojuwono wafat pada tanggal 3 Februari 1994, dan dimakamkan di Makam Muntilan. Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ, penggantinya memimpin Keuskupan Agung Semarang (1984-1996). Mgr. Julius mengembangkan karya pastoral berdasarkan Arah Dasar Keuskupan untuk periode lima tahunan (1984-1990; 1990-1995; 1996-2000). Beliau kemudian juga diangkat menjadi Kardinal, dan kemudian dipindahtugaskan ke Jakarta menjadi Uskup Agung Jakarta. Mgr. Suharyo (1997-sekarang) terus mengembangkan karya pastoral dengan mengumatkan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang untuk periode 2001-2005. Berinspirasikan ajaran Konsili Vatikan II Mgr. Suharyo mendorong Gereja Katolik mewujudkan diri menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban yang hidup, tempat orang-orang beriman menghayati Gereja sebagai peristiwa iman.
Setelah sekitar 100 tahun karya misi dan pastoral dilaksanakan, pada tahun 2004 ini umat Keuskupan Agung Semarang mencapai jumlah lebih dari 500.000, dan tersebar di 87 paroki.





Daftar Blog Saya

 
MENCARI KATA DALAM AYAT
MENCARI KATA DALAM AYAT DAFTAR PETA

Followers


Template by NdyTeeN