Berkah Dalem ,Maaf belum sempat update lagi karena admin masih sibuk dengan kerjaan Silakan tinggalkan Komentar atau kirim ke email kami : omk_jepara@yahoo.com Matur Nuwun
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Paroki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Paroki. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Agustus 2010

Sejarah Gereja Paroki Administratif BVM de La Salette Juwana

Paroki Administratif Juwana terletak kurang lebih 12 km arah Timur laut dari Gereja St. Yusuf Pati. Sebelum menjadi Paroki Administratif Juwana statusnya ialah Stasi Juwana, Paroki Pati. Menurut Buku Sejarah Provinsi MSF Jawa pada tahun 1949 Rm. P. Stienen, MSF yang menjadi Pastor Paroki Pati mendapat tugas khusus membangun gedung gereja Paroki Pati dan mempersiapkan Stasi Juwana.

Keberadaan gedung gereja Stasi Juwana tak lepas dari Ibu Maria Chatarina Chauvin yang merelakan sebagian tanahnya untuk lokasi gereja tersebut. Demikian juga Bapak Bedjo Ludiro dengan kawan-kawannya yang memprakarsi pembangunan gereja di Stasi Juwana ini.

Setelah gedung gereja Stasi Juwana selesai dibangun diberi nama BMV de la Salette Juwana. Misa pertama dilaksanakan pada 10 Juli 1956 bersama Uskup Agung Semarang Mgr. A. Soegijopranata. Namun seiring berjalannya waktu dan berdasarkan SK. Keuskupan Agung Semarang tanggal 7 April 1990 No.112 / B / I / A / 90 nama gereja Stasi Juwana ditetapkan dengan nama GEREJA KATOLIK SANTA MARIA LA SALETTE JUWANA.

Sebelum mempunyai gereja St. Maria La Salette Juwana pada tahun 30 - 40 an sudah pernah diadakan Perayaan Ekaristi, walaupun hanya pada waktu Natal bertempat di rumah Bp. S. von Boltog. Kemudian menjelang akhir tahun 1948 mengalami kemajuan, Perayaan Ekaristi ( Misa ) yang biasa dilaksanakan 6 bulan sekali di rumah Bp. FX. Widya Saputra Jalan Silugonggo 14 Juwana menjadi dua kali sebulan pada hari Minggu pertama dan ketiga karena mulai tahun 1949 di Pati mempunyai 2 Pastor yaitu Rm. Stienen, MSF dan Rm.Yacobs, MSF hingga tahun 1956.

Dengan berjalannya waktu, pada tahun 1983 umat Juwana membangun sebuah ruangan sebagai sarana kegiatan umat yang diberi nama SASANA PRADHANA AVE MARIA.

Pada saat Rm. Harsawijaya MSF bertugas sebagai Pastor Pembantu Paroki Pati untuk Juwana beliau menetap dan tinggal di tengah-tengah umat Juwana. Keberadaan Rm. Harsawijaya MSF merupakan anugerah yang berlimpah bagi umat Juwana karena keadaan ini sangat lama di dambakan oleh umat Juwana. Dan tanggal13 April 1994 status Stasi Juwana menjadi Paroki Administatif Juwana. Dengan Susunan Pengurus Dewan Parokinya sebagai berikut:

1. Ketua Umum : Pastor Paroki

2. Ketua I : I. Sugeng Pranoto

3. Ketua II : Alex Pujianto

4. Sekretaris I : A. Suparlan

5. Sekretaris II : FF. Triwatiningsih

6. Bendahara I : Bambang Santoso

7. Bendahara II : FX. Budi Santoso

Gereja Santa Maria La Salette Juwana, memiliki dua Stasi yaitu Stasi Tlogomojo dan Stasi Jakenan. Menurut Pedoman Dasar Dewan Paroki Keuskupan Agung Semarang tahun 2004 Status untuk Stasi Tlogomojo dan Jakenan menjadi Lingkungan. Mengenai keberadaan LINGKUNGAN Tlogomojo dan gereja SAN INIGO yang terletak kurang lebih 7 Km arah Tenggara dari Juwana dan masuk wilayah kecamatan Batangan pada sekitar tahun 1982 atas bimbingan Bapak A. Kunarso dan Bapak Y. Soedarto (Alm.) serta Pamong-pamong yang lain Lingkungan Tlogomojo berkembang pesat dan menggembirakan, dimulai dengan adanya Doa bersama, Ibadat Sabda dan kemudian Parayaan Ekaristi bersama masih bertempat di rumah warga. Atas kebulatan tekad bersama dengan uang terkumpul Rp 65.000,- dibelilah sebidang tanah untuk lokasi kapel. Waktu itu Pastor Paroki Pati Rm. Marta Wiryana, MSF dan kemudian diganti Rm. PC. Yoedadihardja, MSF (Alm.) dilanjutkan pembangunan gedung gereja di atas tanah ukuran 6 x 9 m yang dirasa cukup menampung umat untuk melaksanakan kegiatan. Atas berkenannya beliau Bapak Uskup Agung Semarang Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ gereja Tlogomojo diresmikan penggunaannya pada 16 Mei 1985 dengan nama GEREJA KATOLIK SAN INIGO. Dari dulu sampai sekarang di Lingkungan Tlogomojo Perayaan Ekaristi diadakan sebulan sekali ( hari Minggu ke dua ) untuk selebihnya dilayani oleh Prodiakon dari Juwana.

Tentang keberadaan Lingkungan Jakenan kurang lebih sejak tahun 1980 ada umat katolik menetap di Kecamatan Jakenan. Sebelumnya mereka selalu mengikuti Perayaan Ekaristi dan kegiatan kerohanian lainnya di Juwana dan di Pati. Semakin lama semakin banyak umat katolik yang menetap di Jakenan dan sekitarnya termasuk di wilayah Kecamatan Pucakwangi, melihat perkembangan umat yang demikian itu maka Rm. PC. Yoedadihardja, MSF ( Alm. ) membeli sebidang tanah dan gedung yang dijadikan kapel dengan harapan Lingkungan Jakenan semakin berkembang. Namun sampai saat ini umat di Jakenan terus berkurang. Ada 3 atau 4 keluarga yang tersisa mereka selalu mengikuti Misa di Gereja Pati.

Dengan berjalannya waktu yang dibarengi dengan pergantian Pastor Paroki serta kebijaksanaan Pastoral dalam hidup menggereja umat, benih-benih iman menghasilkan buah yang berlimpah sebagai nampak pada data berikut ini:

¨ Tahun 1970 umat Katolik berjumlah 594 Jiwa .

¨ Tahun 1980 umat Katolik berjumlah 634 Jiwa .

¨ Tahun 1990 umat Katolik berjumlah 813 Jiwa .

¨ Tahun 2000 umat Katolik berjumlah 640 Jiwa

Setelah sekitar 50 tahun karya misi dan pastoral dilaksanakan pada tahun 2005 ini umat Paroki Administratif Juwana berjumlah 726 jiwa.


[1] Sumber buku Sejarah Gereja St. Yusup Gedangan dalam rangka peringatan 125 th Gedung Gereja dituliskan th 1932 MSF mulai berkarya di Bangkong, 1934 berkarya di Kudus, Demak, Jepara dan 1956 di Purwodadi dan Gubug.

[2] Dalam Konsep Buku Sejarah Gereja Gedangan, sampul biru, tertulis tahun 1936 kompleks Kebon Dalem dibeli Pastoor Beekman SJ. Buku sumber Sejarah Gereja St. Yusup Gedangan dalam rangka peringatan 125 th Gedung Gereja tertulis, Pastor Beekman tanggal 26 November 1936 membeli kompleks Yayasan Soli Bei di Kebon Dalem untuk Panti Asuhan, Sekolahan, Susteran dan Gereja. Baru tgl 16 Desember 1937 bangunan gereja di resmikan.

Sumber: http://historiadomus.multiply.com/journal/item/83/070_Sejarah_Gereja_Paroki_Administratif_BVM_de_La_Salette_Juwana

SEJARAH GEREJA PAROKI SANTO YUSUF PATI

Sejarah

Gedung gereja dan Pastoran Santo Yusuf Pati terletak di Jalan Kamandowo yang melintang ke arah Utara – Selatan, tepatnya pada Jl. Kamandowo No. 3 Desa Pati Kidul Kecamatan Pati Kota yang berkodepos 59114 dengan nomor telepon (0295) 381772 dan faksimili nomor (0295) 385530.

Di jalan Kamandowo ini ada sebuah bangunan yang megah yaitu Gereja Katolik Santo Yusuf beserta Pastoran dan Aulanya.

Situasi dan kondisi Paroki Pati yang sekarang ini terbentuk dari berbagai pengaruh pergolakan zaman dan revolusi di persada nusantara. Marilah kita lihat secara singkat perjalanan panjang Paroki yang dimulai pada zaman Belanda (1932 – 1941), pada zaman pendudukan Jepang (1942 – 1945), dan pada zaman kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini.

ZAMAN BELANDA (1932 – 1941)

š PENYEBARAN IMAN KRISTIANI

Disamping penyebaran kekuasaan/keperkasaan militer dan perdagangan turut tersebar pula Iman Kristiani ke Indonesia melalui orang-orang Belanda. Mereka merasa terpanggil dan wajib mewartakan Kabar Gembira ke seluruh penjuru dunia. Dari sekita banyak “Misionaris” yang berdatangan ke Indonesia, diantaranya adalah para Misionaris Keluarga Kudus, yang ingin memperkenalkan Keluarga Nazareth kepada dunia, termasuk Indonesia dan memberikan kesaksian bahwa sebenarnya semua bangsa merupakan Satu Keluarga Allah. Konggregasi MSF memulai karyanya di Indonesia khususnya di Pulau Jawa pada tahun 1932, tepatnya pada tanggal 26 Februari 1932 di Kota Semarang.

š STATUS STASI MENJADI PAROKI

Sejak tahun 1932, Pati merupakan suatu Stasi dari Paroki Atmodirono Semarang. Secara berkala Stasi ini dikunjungi oleh para Romo MSF, yaitu Rm N Havenman MSF, Rm AJ Raaymakers MSF, dan Rm J Van der Steegt MSF. Situasi dan status stasi tersebut terus berlangsung sampai mendapat status paroki pada tahun 1934, yang luas wilayahnya meliputi : Pati, Kudus, Jepara, Pecangaan dan Demak. Yang ditunjuk sebagai Pastor Paroki yang pertama adalah Rm N Havenman MSF. Peristiwa inilah yang kita peringati, kita rayakan dan kita syukuri, Hari Ulang Tahun Paroki Santo Yusuf Pati.

Pada tahun 1939, Rm J Van Beek MSF menggantikan Rm N Havenman dengan tambahan tugas yaitu mempersiapkan Stasi Kudus menjadi Paroki yang berdikari. Pada bulan September 1939 Stasi Kudus secara resmi melepaskan diri dari Paroki Pati.


ZAMAN JEPANG DAN KEMERDEKAAN

š PENDUDUKAN JEPANG

Pada masa pendudukan Jepang banyak Imam berkebangsaan Belanda yang ditahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Akibatnya paroki-paroki mengalami kekosongan gembala, termasuk paroki pati. Karena itu para Imam Pribumi yang mengisi kekosongan tersebut antara lain Rm IM Haryadi PR dan Rm D Adisoedjana MSF.

š PEMBANGUNAN DAN PEMBERKATAN GEREJA

Peristiwa pemboman Hirosima dan Nagasaki pada tanggal 3 dan 9 Agustus 1945, merupakan kesempatan yang indah bagi bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. para Imam yang berada dalam tahanan segera dibebaskan dan mulai berkarya seperti semula. Pada tahun 1949 Rm Stiemen MSF kembali menjadi Pastor Paroki Pati untuk yang kedua kalinya dengan tugas khusus membangun gedung Gereja Paroki Pati dan mempersiapkan Stasi Juana. Pembangunan gedung Gereja Pati selesai pada tahun 1954. Pada tanggal 2 Oktober 1954 Gedung Gereja dan Pastorannya diresmikan dan diberkati oleh Mgr Albertus Soegijapranata SJ, Vikaris Apostolik Semarang dan pada saat ini Gereja dan seluruh umat dibawah perlindungan Santo Yusuf.

š NOVISIAT MSF YANG PERTAMA

Pada bulan Agustus 1956 Pastoran Pati menjadi “NOVISIAT MSF JAWA YANG PERTAMA” saat itu ada 7 Novis dan Romo A Van Der Valk MSF yang menjadi Magisternya (dari ketujuh Novis tersebut, yang sekarang masih menjadi Romo adalah Romo P.C.Joedidiharjo MSF). Sebelumnya para calon Imam MSF menjalani tahun Novisiatnyadi Negeri Belanda (Nieuwkrek). Meskipun pada tahun 1957 Novisiat harus pindah ke Yogyakarta, namun Pati boleh berbangga dan merupakan kenangan manis tersendiri, karena BATU PERTAMA PENDIDIKAN CALON ANGGOTA MSF, justru berawal dari Pastoran Gereja Santo Yusuf Pati.


[1] Sumber buku Sejarah Gereja St. Yusup Gedangan dalam rangka peringatan 125 th Gedung Gereja dituliskan th 1932 MSF mulai berkarya di Bangkong, 1934 berkarya di Kudus, Demak, Jepara dan 1956 di Purwodadi dan Gubug.

[2] Dalam Konsep Buku Sejarah Gereja Gedangan, sampul biru, tertulis tahun 1936 kompleks Kebon Dalem dibeli Pastoor Beekman SJ. Buku sumber Sejarah Gereja St. Yusup Gedangan dalam rangka peringatan 125 th Gedung Gereja tertulis, Pastor Beekman tanggal 26 November 1936 membeli kompleks Yayasan Soli Bei di Kebon Dalem untuk Panti Asuhan, Sekolahan, Susteran dan Gereja. Baru tgl 16 Desember 1937 bangunan gereja di resmikan.

Sumber : http://historiadomus.multiply.com/journal/item/42/029_Sejarah_Gereja_Paroki_Santo_Yusup_Pati

SEJARAH GEREJA PAROKI SANTO YOHANES EVANGELISTA KUDUS

Tahun 1928 gereja Bangkong dan stasi-stasi Kudus, Pati, Juana diserahkan kepada para romo MSF. Tahun 1930 didirikan pusat gereja di Kebon Dalem.


Sejarah

Melihat perlunya gereja sebagai tempat beribadah bagi umat Katolik Kudus, maka Mgr. Lijnen dari paroki Gedangan Semarang mulai merintis pendirian gereja. Tanggal 17 Juni 1911 gedung gereja pertama yang terletak di Jalan Kawedanan (sekarang J1. Diponegoro 19 Kudus) diresmikan oleh pastor P. Neijboer. Pendirian gereja tersebut digunakan sebagai kapel bagi umat Katolik di Kudus. Sampai dengan 1931, umat Kato1ik Kudus masih menjadi bagian umat dari Paroki Gedangan Semarang, dan semenjak 1932 Kudus menjadi stasi dari Paroki Pati. Kudus menjadi stasi dari Paroki Pati dengan pertimbangan, bahwa kota Kudus merupakan bagian dari wilayah karisidenan Pati, selain Rembang, Jepara dan Juana, pertimbangan lain yaitu letak geografisnya lebih dekat dengan Pati, dan juga kota Kudus termasuk daerah propinsi dari misi pastor MSF.

Selama tujuh tahun menjadi stasi paroki Pati, perkembangan umat Katolik Kudus mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah umat ini mendapat perhatian dari Keuskupan Agung Semarang dan menjadi pertimbangan untuk menjadikan stasi Kudus menjadi sebuah paroki. Selain pertimbangan tersebut, umat stasi Kudus dipandang sudah cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan keuangan dan administrasi sebuah paroki. Tahun 1939 Pastor Y. Van Beek, MSF mempersiapkan pendirian paroki Kudus. Gedung yang semula digunakan sebagai kapel kemudian difungsikan menjadi gereja. Gedung gereja di Jalan Kawedanan diresmikan menjadi paroki Kudus pada tanggal 1 Januari 1939, dan pastor pertama yang ditugaskan di Paroki Kudus adalah Pastor J. Vander Steegt, MSF.

Semasa jaman Jepang di Indonesia gereja mengalami goncangan yakni hampir semua gereja kehilangan pimpinan. Demikian pula yang terjadi di paroki Kudus, semua pastor ditawan oleh tentara Jepang di dalam kamp tahanan. Pada saat itu pastor paroki Kudus yang ditawan adalah pastor J. Komen, MSF dan pastor A. de Koneng, MSF. Selama para misionaris Belanda dalam kamp tahanan kegiatan dan karya misi gereja berhenti, begitu juga dengan kegiatan sekolah yang ditangani pastor-pastor Belanda. Pada saat itu pula karya misi gereja mulai ditangani oleh pastor-pastor pribumi. Pastor-pastor pribumi pertama yang baru datang dari negeri Belanda yakni Pastor IM. Haryadi (1944-1945) dan Pastor D. Adisoedjana MSF (l946-1948). Karena tidak mempunyai pastoran lagi, maka apabila berkunjung ke Kudus, para pastor tersebut tinggal di rumah Keluarga Lie Swie Liat (Jl. A. Yani 100 Kudus).

Pada tahun 1952 paroki Kudus mengalami peningkatan jumlah umat, akibatnya gereja pertama di Jalan Kawedanan yang mempunyai daya tampung 300 umat itu, sudah tidak mampu menampung umat lagi. Melihat itu pastor A. de Koneng, yang kembali lagi ke Kudus tahun 1952, mulai merintis pendirian gereja baru. Sebagai langkah awal adalah mencari tanah untuk bangunan gereja. Tidak lama kemudian pada tahun 1953, pastor A. de Koneng menemukan tanah di Jalan Ngantenan (sekarang Jalan Sunan Muria no 6 Kudus). Dahulu pemilik tanah ini adalah seorang Belanda bernama Bushoar, kemudian tanah itu dibeli oleh seorang arab dari Semarang untuk digunakan sebagai asrama. Dari sinilah pastor A. de Koneng bersama dengan Mgr. Albertus Soegijapranata mengadakan pembicaraan dengan orang arab tersebut, dan akhirnya tanah di Jalan Ngantenan dibeli. Dana untuk pembelian tanah berasal dari salah satu umat, yakni keluarga The Tjieng Swan, seorang direktur perusahaan rokok Prawoto. Pembangunan gereja kedua di Jalan Ngantenan dibangun oleh pastor A. de Koneng pada tahun 1954. Dengan bantuan dana dari umat, pembangunan gereja secara keseluruhan selesai pada tahun 1955, dan diberkati oleh Mgr. Albertus Soegijapranata pada tanggal 24 April 1955.

Sebelumnya, yakni tahun 1954, dise1esaikan pembangunan gedung Kanisius (sekarang SDK) di halaman belakang gereja. Pada tahun itu juga sekolah yayasan Kanisius Kudus menjadi sekolah yayasan Keluarga. Gereja di Jalan Kawedanan pun sudah tidak digunakan lagi dan pada tanggal 4 Agustus 1960 dibeli oleh gereja Kristen Jawa (GKJ) atas ijin dari Mgr. Albertus Soegijapranata.

Suatu kenyataan bahwa saat itu paroki belum terbentuk Dewan Paroki, belurn terdapat pembagian wilayah/stasi, katekes sangat terbatas, belum ada organisasi kemasyarakatan Katolik, padahal wilayah paroki gereja St. Yohanes Evangelista meliputi 3 wilayah kabupaten : Kudus, Jepara dan Purwodadi. Akhirnya, dari beberapa pertemuan muncul tokoh-tokoh awam embrio terbentuknya Dewan Paroki dan organisasi kemasya-rakatan Katolik yang kelak menjadi motor penggerak pengembangan gereja. Untuk menambah katekese dan guru agama diadakan kursus katakese selama 1 tahun atas ijin Keuskupan Agung dan digembleng oleh Rm C. Yacobs, MSF dan Rm F.X. Pradjasuta, MSF. Dipilihlah guru-guru muda dan kepala sekolah SDK, SMPK, SMAK untuk mengikuti kursus ini. Dan mereka diwajibkan mengajar agama di kelas, stasi dan wilayah. Dalam bidang organisasi kemasyaratan dibentuklah Partai Katolik, Persatuan Guru Katolik dan Pemuda Katolik, Ikatan Buruh Pancasila, Wanita Katolik dan Gugus Depan khusus Katolik. Semasa di Kudus Rm. Pradjasuta, MSF juga dikenal selalu gigih dalam memperjuangkan hak-hak umat Katolik dengan warga negara yang beragama lain, antara lain hak penguburan jenazah.

Tahun 1965 peristiwa G 30 S PKI meletus. Ada hikmah baik dan buruk bagi pengembangan gereja dan umat Katolik dari peristiwa ini. Ketegangan dan ketidakpastian terjadi, beredar selebaran gelap tentang tokoh-tokoh yang akan dihabisi. Saat itu setiap orang diwajibkan memeluk salah satu agama, banyak orang yang kemudian tertarik menjadi Katolik, muncullah banyak katekumen baru di desa­-desa. lnilah yang kemudian melahirkan stasi-stasi Tanjungrejo (1966), Rejosari (1968), Ngrangit (1968), Bulung (1968) dan Cranggang. Dalam pengembangan stasi­-stasi tersebut tidak dapat dilupakan jasa katekis Bapak T. Purwosumarto yang gigih mewartakan injil ke pelosok-pelosok kabupaten Kudus, beliau meninggal dalam kecelakaan sepulang mewartakan Injil di Ngrangit pada September 1972.

Tahun 1971 Rm. A. de Koning, MSF kembali bertugas di Kudus, beliau meninggal dunia dalam perjalanan ke Jepara untuk melayani umat di kota tersebut, maka Rm Cel.v.d. Vlugt, MSF yang sedang cuti di Be1anda langsung kembali menggantikannya walau semula beliau adalah pastor kepala di Salatiga. Pada tahun 1980 beliau digantikan Rm Harry Vermuelen, MSF yang kemudian diangkat menjadi pastor kepala di paroki Rawamangun Jakarta pada Maret 1981.

Kegiatan para awam makin bersemangat, teratur dan terarah. Dewan Paroki mulai tertata dengan pembagian seksi. Tahun 1976 perkembangan paroki secara teritorial baru dimulai ketika terbentuk sepuluh wilayah dalam paroki. Dalam kegiatan liturgi mulai diangkat para Prodiakon pertama sejumlah dua belas orang pada tahun 1982. Dan pada kesempatan yang sama mulai diadakan penyegaran susunan Dewan Paroki dengan pembatasan jangka waktu tugas yaitu tiga tahun.

Kegiatan seperti Koor dan Legio Maria berkembang dengan pesat pada masa bakti Rm F.X. The Tjoen An, MSF. Walaupun sangat pendek, Oktober 1988 - ­Februari 1990, beliau berhasil memotivasi banyak kalangan untuk terlibat lebih aktif dalam kegiatan Gerejani. Ia pun membimbing umat untuk meneruskan pemugaran gereja yang sudah dimulai Rm. Jeremias Bala Pito Duan serta memindahkan SD Keluarga dari Jalan Sunan Muria 6 ke Jalan Pramuka untuk membangun aula Paroki yang lebih representatif serta pembangunan gereja Mayong. Beliau meninggal 13 Februari 1990 di RS Atmajaya Jakarta tanpa sempat menyelesaikan beberapa proyek pembangunan yang beliau motori. Maka Rm F.X. Dwinugraha Sulistya, MSF yang sejak 1 September 1989 mendampinginya, ditunjuk sebagai pejabat sementara pastor kepala Paroki Kudus dan merealisasikan pembangunan aula yang kemudian diberkati pada tanggal 3 Desember 1990. Pembangunan fisik gereja Kudus terus mengalami perubahan, semasa Rm. R.B. Pranatasurya, MSF juga dibangun pastoran baru dan perluasan sayap gereja untuk menampung lebih banyak umat.

Pergantian pastor paroki yang terjadi di paroki memang turut mewarnai perkembangan umat. Umat semakin berkembang saat mana pastor-pastor yang mempunyai cara kepemimpinan yang beragam melakukan tugas penggembalaannya. Adapun data lengkap pastor yang pernah bertugas di paroki Kudus sbb :

Pastor Kepala

Pastor Pembantu

John. v.d. Steegt, MSF (1939-1940)

J.H. ten Haaf, MSF

A. Elfrink, MSF

A. Verlaan, MSF (1940-1941)

F. Iven, MSF

N. Havenman, MSF

A. Elfrink, MSF (1941-1943

J. Komen, MSF (1940-1943)

P. Stienen, MSF (1942-1943)

J. Komen, MSF (1949-1952)

P. Stienen, MSF

N. Langers, MSF

M. Sanders, MSF

A. de Koning, MSF (1952-1962)

M. Sanders, MSF (1950-1953)

A. v.d. Valk, MSF (1953)

P. Bos, MSF (1954)

F. Kiswara, PI' (1960- 1 961)

C. Jacobs, MSF (1962-1965)

F. Huneker, MSF (1961-1962)

F.X. Pradjasuta, MSF (1962-1964)

A. v.d. Peet, MSF (1962- 1963)

P.C. Joedadihardja, MSr (1964 - )

H. Djajaputranta, MSF (1965-1966)

P.C. Joedadihardia, MSF

P. Stienen, MSF (1966-1971)

P .C. Joedadihardja, MSF ( - 1966)

F. Surjaprawata, MSF (1967 - )

A. de Koning, MSF (1971-1977)

F. Surjaprawata, MSF ( - 1971)

Cel. v.d. Vlugt, MSF (1971-1973)

Al. Endrakarjana, MSF (1973-1977)

F. Tedjasuksmana, MSF (1977 - )

cel. v.d. Vlugt, MSF (1977-1980)

F. Tedjasuksmana, MSF ( - 1979)

H.Y.H. Harsawijaya, MSF (1979- )

F.X. Darmosuwito, MSF ( -1981)

Harry Vermuelen, MSF (1980)

H.Y.H. Harsawijaya, MSF

A. v.d. Peet, MSF (1981-1987)

H.Y.H. Harsawijaya, MSF ( -1981)

T. Dwija Iswara, MSF (1982)

Al. Suharihadi, MSF (J 983)

Yeremias Bala Pito Duan, MSF (1984- )

Yeremias Bala Pito Duan, MSF (1988)

YR. Mulyono, MSF (1987- )

F.X. The Tjoen An, MSF (1988-1990)

Y.R. Mulyono, MSF ( -1989)

F.X. Dwinugraha Sulistya, MSF (1989- )

Anton Gunardi, MSF (1990-1992)

F.X. Dwinugraha Sulistja, MSF ( - 1991)

Al. Endrakarjana, MSF (1990- )

Yeremias Bala Pito Duan, MSF (1992-1993)

Al. Endrakariana, MSF ( -1995)

Al. Endrakariana, MSF (1995)

Y. Tioek Prasetyo, MSF (1993- )

Niko Antosaputra, MSF (1995-1998)

Y Tjoek Prasetyo, MSF ( -1997)

Ag. Suwartana Susilo, MSF ( - 1998)

F. Tedjasuksmana, MSF (1998-2001)

Yulius Edyanto, MSF (2001- )

R.B. Pranatasurya, MSF (1998-2002)

Ag. Suwartana Susilo, MSF ( - 1998)

F. Tedjasuksmana, MSF (1998-2001)

Yulius Edyanto, MSF (2001- )

F.X. Dwinugraha Sulistya, MSF (2002- )

Yulius Edyanto, MSF ( -2003)

P.M. SunarkawihaJja, MSF (2002-2005)

Ignatius Supriyatno, MSF (2003-2005)

Y. Tjoek Prasetyo, MSF (2005)

Aloysius Rinata Hadiwardaya, MSF (2005- )




Setelah sekitar lebih 67 tahun sejak menjadi paroki, perkembangan umat semakin kelihatan. Perkembangan umat Lingkungan dan makin bertambahnya kelompok kategorial paroki menjadi pertanda semakin banyak awam yang turut terlibat dalam perjalanan paroki. Tahun 2006 ini paroki memiliki 24 Lingkungan dan lebih dari 23 kelompok kategorial yang berkembang dengan baik di paroki. Perkembangan fisik bangun gereja juga terus mengalami perubahan seiring kebutuhan akan sarana yang menunjang kegiatan umat. Tahun 2006 semasa Rm. F.X. Dwinugraha Sulistya, MSF dibangun gedung Pelayanan Pastoral yang baru untuk menampung umat dan kegiatan-kegiatannya yang semakin beragam. Gedung ini diberkati oleh Mgr. I. Suharyo pada 11 Agustus 2006.


[1] Sumber buku Sejarah Gereja St. Yusup Gedangan dalam rangka peringatan 125 th Gedung Gereja dituliskan th 1932 MSF mulai berkarya di Bangkong, 1934 berkarya di Kudus, Demak, Jepara dan 1956 di Purwodadi dan Gubug.

[2] Dalam Konsep Buku Sejarah Gereja Gedangan, sampul biru, tertulis tahun 1936 kompleks Kebon Dalem dibeli Pastoor Beekman SJ. Buku sumber Sejarah Gereja St. Yusup Gedangan dalam rangka peringatan 125 th Gedung Gereja tertulis, Pastor Beekman tanggal 26 November 1936 membeli kompleks Yayasan Soli Bei di Kebon Dalem untuk Panti Asuhan, Sekolahan, Susteran dan Gereja. Baru tgl 16 Desember 1937 bangunan gereja di resmikan.

Sumber : http://historiadomus.multiply.com/journal/item/46/033_Sejarah_Gereja_Paroki_Santo_Yohanes_Evangelista_Kudus

Rabu, 25 Agustus 2010

SEJARAH GEREJA PAROKI HATI YESUS MAHA KUDUS PURWODADI

Dalam konteks perjalanan pewartaan dan penyebaran benih iman, misi Katholik di kabupaten Grobogan Purwodadi dimulai ± 1930. Dalam sejarah misi para imam MSF, tanah Purwodadi sebagai daerah misi sejak pendudukan Jepang. Secara lebih sistematis, penyebaran itu dirintis tahun 1950-an oleh Rm. Soetapanitra, SJ. Dalam catatan sejarah paroki Gedangan, Tahun 1948-1963, Rm. Soetapanitra menjadi pastor pembantu paroki Gedangan. Dalam selang waktu itu, Rm. Soetapanitra melakukan kunjungan pastoral ke daerah Grobogan. Kunjungan inilah yang menandai awal penanaman benih iman di tanah Grobogan.



Purwodadi sebagai Stasi dari Paroki St. Yusuf Gedangan.

Pada 1930-an di daerah Purwodadi telah diupayakan kemungkinan membuka sebuah sekolah Katholik. Usaha ini kurang berjalan dengan baik karena tokohnya pak Besut dipindahtugaskan di daerah Yogyakarta. Tahun 1941/1952 Rm. Kanjeng Soegijapranata, SJ melihat adanya perkembangan umat Katholik di Grobogan yang pada waktu itu sudah ada delapan orang yang beragama Katholik. Pada 1953, daerah Purwodadi-Grobogan memperoleh guru-guru dari Colege St. Yosef Ambarawa. Mereka disebar ke pelosok-pelosok yang masih sulit dijangkau oleh kendaraan. Karena luasnya daerah pastoral di daerah Purwodadi-Grobogan, Rm.Soetapanitra, SJ menyerahkan daerah ini pada para rama dari kongrgasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF ).



Purwodadi sebagai stasi paroki St. Yohanes Penginjil Kudus (1957-1967)

Mulai 1957, daerah Purwodadi menjadi stasi dari Paroki St. Yohanes Penginjil Kudus. Sebagai bagian dari paroki Kudus, stasi Purwodadi sendiri terdiri dari lingkungan Wirosari, Gundih, dan Godong. Menjelang perayaan Natal 1957, didirikan suatu paguyupan Rukun Katholik. Pada bulan Juli 1958 berdiri SMP Rukun Katholik yang kemudian menjadi SMP Yos Sudarso. Pada 1963-1966 ketika partai komunis mulai mempropagandakan ajarannya dan ingin menguasai daerah Purwodadi, umat mengantisipasi kekuatan PKI (1965), umat membentuk satu peleton Pasukan Garuda Pancasila. Bekerjasama dengan Gereja Kristen Jawa, umat membantu pemerintah dalam menumpas PKI. Di Purwodadi antara tahun 1966-1968, terbentuklah paguyuban Warga Minulya, suatu paguyuban ketoprak dan kelompok Laras Madya, suatu kelompok kentrung, slawatan. Bersama itu juga terbentuklah satuan Katekis Amatir yang dipelopori oleh Rm. PC. Yoedodiharjo, MSF dan dilanjutkan oleh Rm. Hastowijoyo, MSF.

Pada 1967-1968, banyak orang Katholik yang menjabat di pemerintahan ikut serta mengembangkan pembangunan hidup menggereja, namun ada beberapa yang menghalangi perkembangan gereja. Usaha umat untuk mendirikan bangunan Gereja pada 1967 mulai menampakkan hasilnya yang nyata. Sebuah tanah bekas Asisten Residen yang berada di utara alun-alun Purwodadi resmi menjadi tanah untuk Gereja Katholik. Banyak tantangan dalam mendirikan sebuah bangunan Gereja ini. Namun berkat kelincahan dari umat dan Pastor paroki, akhirnya semua rintangan dapat diatasi. Letak tanah seluas 100 × 80 m yang di ajukan paroki diubah oleh team yang dibentuk oleh Gubernur Munadi menjadi 80m memanjang ke timur dan 80 m memanjang ke selatan. Selama membangun itulah umat mengadakan novena tiga kali berturut-turut mohon perlindungan dan limpahan berkat dari Hati Yesus Yang Maha Kudus. Pada hari yang ke duapuluh dua, permohonan itu ternyata dikabulkan. Untuk menunjukkan rasa syukur atas terkabulnya permohonan berkat Hati Yesus Yang Maha Kudus, maka nama itu pulalah yang di gunakan sebagai nama paroki dan pelindung paroki Purwodadi.





Purwodadi sebagai paroki (1968-sekarang)

Perkembangan selanjutnya diwarnai oleh pendidikan sekolah Katholik. Sekolah Katholik selain mengemban tugas mendidik anak-anak dan mencerdaskannya, juga mengemban misi menghadirkan Kristus di tengah masyarakat. Perkembangan baptisan sangat sIgnifikan terjadi pada akhir 1966-970-an. Perkembangan ini dikarenakan terjadinya pembabtisan para tokoh kunci seperti lurah, carik, kasus yang membuat dampak bawahannya juga mengikuti atasannya untuk dibaptis. Perkembangan tahun-tahun selanjutnya tidak lagi mengesankan. Dari data yang terhimpun dalam sensus umat Katholik 1991, umat Katholik berjumlah 2.296 jiwa. Jumlah ini tersebar di lima wilayah dan 15 stasi. Jumlah ini berlainan dengan data statistic pemerintah 1989 yang menyebutkan jumlah umat Katholik 4.377 jiwa. Perkembangan umat diwarnai pula dengan adanya pembagian wilayah baru antara paroki Purwodadi dan Paroki Sendangguwo. Perkembangan selanjutnya mengandalkan baptisan bayi yang biasanya dilakukan minggu ketiga setiap bulan atau ada kesempatan di stasi-stasi serta baptisan dewasa setiap Natal dan Paskah. Dalam perkembangannya terkhir ini, angka kematian relative banyak mengingat kebanyakan umat yang masih tinggal di wilayah dan stasi-stasi adalah orang yang sudah lanjut usia. Sedangkan generasi mudanya pindah ke kota karena studi dan pekerjaan.

Perkembangan karya kerasulan di Paroki Purwodadi juga semakin hidup seiring dengan pembangunan fisik Gereja. Sebagaimana di jabarkan dalam cita-cita Gereja Purwodadi pada 1991, Gereja Purwodadi mau mengikuti cita-cita keuskupan agung Semarang yang ingin menuju pada umat Allah yang beriman, mendalam, dewasa, misionerdan beriman masyarakat.

Selanjutnya paroki Purwodadi lebih berkutat pada segi kemandirian. Kemandirian dalam ketenagaan dapat dikatakan cukup baik sedangkan kemandirian keuangan masih dalam proses. Dalam keterbatasan tersebut,di paroki sudah berkembang paguyuban-paguyuban yang menggairahkan hidup menggereja. Tanggal 6 Oktober 1993 telah diusahakan perubahan status tanah dari hak guna bangunan menjadi hak milik. Usaha ini untuk mengantisipasi dari kebutuhan pengembangan sarana peribadatan yang sangat di butuhkan umat. Kini dari empatbelas stasi yang ada di paroki Purwodadi, 13 stasi telah memiliki tempat ibadat sendiri atau kapel. Stasi Karangrayung yang selama ini belum memliki Kapel, umat hanya mengandalkan rumah umat untuk mengadakan misa syukur atau peribadatan.



Rm. FX. Sutarno, MSF

SEJARAH GEREJA PAROKI STELLA MARIS JEPARA

Satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang, ialah justru di kota Jepara sinilah Gereja Katolik yang pertama dan yang tertua di Jawa Tengah didirikan, yaitu pada tahun 1638 dengan seizin Sultan Agung. Di seluruh Kesultanannya orang bebas memeluk dan memperkembangkan Agama Katolik. Demikianlah menurut ahli sejarah Oderius. Akan tetapi sayang bahwa orang-orang Belanda dari VOC tidak begitu tolerant seperti Sultan Agung dan karena dikeluarkannya Undang-undang Anti-Katolik oleh J.P. Coen, habis musnahlah riwayat Gereja Katolik kuno Jepara, karena imam-imamnya dibuang ke luarg negeri, umat diangkut dari Jepara ke penjara Batavia dan agama Katolik selanjutnya dilarang.

Baru setelah negeri Belanda dikuasai Napoleon, undang-undang Anti Katolik dibatalkan dan mulailah benih-benih agama Katolik ditaburkan lagi di Jawa Tengah, 27 Desember 1808, pastor pertama J. Priensen tiba di Semarang dan menetap di Gedangan. Meskipun dengan banyak rintangan dari pihak pemerintah, gereja Semarang mulai meluas ke Solo, Magelang dan Ambarawa. Akhirnya pada tahun 1914 menerima izin dari Sri Sultan Yogyakarta penyebaran orang Katolik untuk orang Jawa.

Sejak adanya larangan agama Katolik oleh J.P. Coen, sejarah tidak mencatat adanya bekas-bekas agama Katolik dalam wilayah Jepara. Baru dalam dekade-dekade yang akhir-akhir ini mulailah benih-benih agama Katolik yang ditaburkan dalam tahun 1638 semi kembali, setelah mengalami kematian selama 3 abadm yaitu dengan didirikannya stasi Pecangaan yang dipimpin oleh Pastor Stienen MSF pada tahun 1936. Kecuali sebuah H.I.C.S di Pecangaan, didirikannya sekolah-sekolah Rendah Misi di Krasak, Karangrandu, Troso dan Kedung.

Pada waktu nitu di kota Jepara barau ada beberapa glintir saja orang-orang Katolik asli Jepara dan sejumlah guru-guru, yang kebanyakan datang dari daerah selatan (Solo, Klaten, Yogyakarta, Muntilan dan Ambarawa). Sebagai orang (tokoh) Katolik yang tertua adalah Sdr. Tan Tjing Sioe. Beliaulah cikal bakal umat Katolik Jepara.

Perang Dunia II berkobar, balatentara Jepang menguasai Indonesia (Ned. Indie). Pastor-pastor dimasukkan dala kamp-kamp konsentrasi. Juga Pastor Stienen. Stasi Pecangaan yang barau mulai tumbuh itu berantakan.

Kalau sebelum perang titik berat aktivitas Katolik ada di Pecangaan, maka setelah Proklamasi beralihlah kegiatan itu ke kota Jepara. Gedung-gedung sekolah Misi di daerah Pecangaan disewa ole Dinas PD&K dan dipakai sebagai SD, sedangkan gedung bekas Pastori Pecangaan yang mula-mula juga disewa oleh Instansi Pemerintah kemudian diminta kembali dan dijadika Gereja, Asrama Guru-guru dan SMP Keluarga.

Pada masa perjuangan fisik (1945-1949) karena hubungan dengan Semarang terputus, keperluan rohaniah orang-orang Katolik di Jepara dilayani dari Paroki Purwosari, Sala. Di Kudus dan di Pati pada waktu itu belum ada pastornya. Tiga atau empat bulan sekali Rm. Adisudjono MSF mengadakan perjalanan dinasnya mengunjungi orang-orang Katolik di Jepara dan sekitarnya, melalui Cepu, Blora, Rembang, Pati dan Kudus. Kebaktian diadakan di rumah Sdr. Tan Siong Liep dan kemudian pindah di rmah Sdr. Liem Tiong Swan.

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Negeri Belanda (Desember 1948) dan hubungan pulih kembali maka pastor-pastor menduduki posnya kembali di Paroki Kudus dan Pati, dan Stasi Jepara diurus oleh pastor-pastor dari paroki Kudus, berturut-turut Rm. J. Komen MSDF, Rm. A. de Koning MSF, Rm. Stienen MSF dan Rm. C. Jacobs MSF.

Sejak saat itu Stasi Jepara sedikit demi sedikit mulai berkembang. Pada tanggal 1 Agustus 1955, dibuka Taman Kanak-Kanak dan SD Keluarga (yang sekarang TK/SD Kanisius) di Jl. Satusan No. 22, Jepara. Mgr. A. Soegijopranoto SJ, Uskup Agung Semarang, pada tanggal 21 Oktober 1956 berkunjung ke Jepara untuk memberikan Sakramen Penguatan. Pada tahun 1961, Mgr. Soegijopranoto memberkati dan meresmikan Gereja Pecangaan. Sejak itu mulai Pecangaan berdiri sendiri sebagai Stasi. Pada tanggal 24 Maret 1963, terbentuklah Dewan Stasi Jepara yang pertama.


Pembangunan Gereja

Setelah terbentuk Dewan Stasi Jepara, Rm. C. Jacobs MSF mulai merintis pembangunan gereja sebagai tempat berdoa umaat yang semakin berkembang pada waktu itu. Pada tanggal 18 Mei 1964 diresmikanlah Gereja Katolik Jepara oleh Romo Kardinal Darmojuwono. Gedung gereja yang ditempati saat ini di Jl. AR/ Hakim 42, adalah mili Yayasan Kanisius yang dalam perencanaannya dipergunakan untuk SMP Kanisius. Dari sinilah mulai dipilirkan untuk mencari tanah baru. Atas kerjasama dengan Keuskupan Agung Semarang, dibeli sebidang tanah di Jl. H.O.S. Tjokroaminoto. Sdr. Yoyok Setiawan dipilih sebagai Ketua Panitia pembangunan. Namun, ada masalah dengan perijinan dari Pemerintah Daerah Jepara, yang menurut informasi, penolakan perijinan dengan alasan lokasi di tempat itu menurut planning kota dipakai sebagai KOMPLEK PERKANTORAN (sekarang didirikan Hotel Jepara Indah). Oleh karena perijinan dipersulit, maka panitia pembangunan memutuskan untuk mendirikan gereja barau dalam satu komplek gereja lama, yakni di Jl. AR. Hakim 41 A, sekarang.


Paroki Administratif

Paroki Jepara disebut sebagai paroki administratif dengan induknya paroki Kudus. Paroki ini berada seluas dengan Kabupaten Jepara. Oleh karenanya tempat tinggal umata terpencar. Sampai dengan tahun 1990-an, paroki Jepara terdiri dari 8 (delapan) Stasi: Welahan, Batealit, Bangsri, Mayong, Keling, Donorojo, Pecangaan, K. Jawa/Kedung/Mlongo dan 4 (empat) wilayah: Yohanes, Paulus, Petrus dan Yoseph. Dalam perjalanan waktu selanjutnya mengalami pengurangan sehingga paroki administratif Jepara sekarang ini terdiri dari 4 Stasi: Mayong, Welahan, Pecangaan dan Bangsri (barau 2 tahun terakhir ini hidup kembali dan 4 wilayah: Yohanes, Paulus, Petrus dan Yoseph.



Sumber: Buku Kenangan 40 Tahun, 18 Mei 1964 – 18 Mei 2004 Gereja Katolik Stella Maris – Jepara, hal. 7-8.

Tercatat pada tahun 2008 Paroki Administratif Jepara telah resmi menjadi Paroki Mandiri ( Paroki Stella Maris Jepara )

Daftar Blog Saya

 
MENCARI KATA DALAM AYAT
MENCARI KATA DALAM AYAT DAFTAR PETA

Followers


Template by NdyTeeN